SENGOKU BASARA FANFIC : BETWEEN TIGER AND DRAGON


SENGOKU BASARA FANFIC : BETWEEN TIGER AND DRAGON

 

Author : Flo

 

​Sebenarnya inti menjadi seorang samurai sejati  adalah percaya pada keinginan, insting dan tujuanmu. Setidaknya itu beberapa hal yang diajarkan seorang Takeda Shingen pada murid kesayangannya. Gambaran spirit yang perlu diraih untuk masa depan.

Menjadi seorang pahlawan, mungkin secara fundamental berbeda. Tapi jelas kalau apa yang mendasarinya sama; bukan dari bagaimana kau bertarung tapi apa yang telah kau lakukan untukmu dan bagi orang lain. Klan Takeda bukanlah klan yang menginginkan kekuatan dan kekuasaan diatas segalanya—berbanding terbalik dengan klan Oda—karena yang mereka inginkan hanyalah suasana tenteram dan aman dari perpecahan.

Terlepas dari jeritan melengking Yukimura yang dia lepaskan di pagi, sore maupun malam hari dan berakhir dengan luka-luka tambahan di sekujur tubuh maupun seruan bergemuruh khas Takeda Shingen; sesuatu yang menjadi keseharian di kediaman Takeda.

Terlepas dan betapa mengerikan ayunan kapak raksasa sang pemimpin klan. Senjata yang telah menjadi simbol kebanggaan lelaki tak berketurunan yang menjadi musuh bebuyutan insan berparas ayu dan tegas tetangga sebelah.

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Begitu ujar orang tua. Watak keras kepala milik Shingen-kou telah diwariskan secara ajaib kepada anak didik satu-satunya—sang harimau kecil Sanada Genjirou Yukimura. Apapun yang ditugaskan padanya menjadi mandat yang tak tergoyahkan. Absolut. Tak pernah salah.

Tapi tak termasuk ketika ia harus menghadapi kemarahan sang Naga Bermata Satu.



Butuh beberapa waktu baginya untuk mencerna situasi. Kondisi yang merubah sorot mata kawan latih tandingnya itu menjadi sedingin es.

Awalnya ia mengira hari itu mungkin adalah hari yang ia tunggu sekian lama; menentukan siapa pemenang sejati untuk perselisihan antar lelaki. Sebuah tarian mencekam namun menawan di bawah terik mentari tak kenal letih.

Tidak.

Bukan itu hadiah persahabatan pada hari ini.

“Masamune-dono!!”

Sorot mata itu lagi. Dingin. Bergeming. Tanpa jiwa. Seketika jiwa Yukimura terhenyak. Instingnya tak salah—ini bukan Masamune yang ia kenal.

“Ayo kita tentukan semua hari ini, Yukimuraaa!!”

Meremanglah kuduk sang Harimau Kecil. Apa? Kenapa? Dimana Katakura? Tak biasanya ia membiarkan Masamune berlaku diluar kewajaran. Karena itu tugas seorang tangan kanan. Namun kemanapun mata Yukimura menyapu, tak ditemukannya sosok lelaki paruh baya itu. Seakan lenyap ditelan aura naga biru yang terpancar dari raga Masamune.

Tidak. Tidak semuanya berbeda. Nyatanya semangat yang dirasakan Yukimura meresap dalam hatinya bukanlah palsu. Di hadapannya memang Date Masamune—dengan hawa pembunuh yang menguar.

“AKU DATANG UNTUK MELAWANMU, MASAMUNE-DONO!! SEBAGAI LELAKI BIARKAN SAYA MEMBALAS SEMANGATMU! YUKIMURA INI DATANG UNTUK BERTARUNG!!”

“….baguslah. Nampaknya aku tak perlu basa-basi. Seperti biasanya saja ya,” cengiran khas terbentuk di wajah tampannya. Mengayunkan keenam pedang kebanggaan sebagai tanda ia tak meremehkan lawan di depannya ia maju. Selangkah. Dua langkah. Lalu melesat bagai petir.

“DEATH FANG!”

Hampir saja. Sepersekian detik. Jika Yukimura tak menepis bilah pedang yang menyisir kuncirannya itu, entah kemana ia akan terpelanting. Sambil mundur dalam satu lompatan, sang anak harimau menyiapkan diri untuk menerima serangan bertubi selanjutnya. Ya, ia bahkan tak dapat menyerang balik walau ingin.
Setelah semenit melakukan lari- bertahan-berlindung, Yukimura menyadari pola serangan Masamune tak beraturan. Sesuatu yang akan dilakukannya ketika termakan emosi. Ketika hatinya sedang tak tentu arah. Lalu apakah yang menyebabkan sang Naga begini murka?


[Yukimura, kita akan tunda pertandingan ini dan melanjutkannya saat kita berdua sudah menakhlukkan lawan-lawan kita. Setuju kan?]


Ingatan samar menimpa Yukimura. Itu adalah kalimat yang diucapkan Masamune sebulan sebelum keberangkatannya memulai penyerangan ke beberapa area di sekitar Date. Terbayang senyum letihnya di penghujung hari; menenggak teh buatan Sasuke sambil memijiti kakinya yang sedikit terkilir. Kala itu Masamune sedang terluka dan terpaksa dilarikan ke dekat kediaman Sanada. Ia juga ingat bertukar canda dengan penguasa Oshu, bertindak layaknya teman dekat. Mereka memang sebaya namun perbedaan kedudukan dan latar belakang membuat keduanya seperti air dan api. Hanya semangat dan kadar keras kepala merekalah yang menjadi penghubung terutama di masa damai yang sejenak.

Yukimura kembali berpaling pada raut wajah lawan tandingnya.

Sejak kapan situasi menjadi kacau seperti ini…?

Bagi Yukimura yang tak pernah ingin merasakan menjadi pemuda biasa dan bekerja di istana, menjadi pengikut klan Takeda adalah sesuatu yang selalu ia banggakan. Sesuatu yang membuatnya begitu menggebu dalam setiap pertarungan. Kepolosan di wajahnya membuat sebagian warga sekitar tak yakin dialah yang dipanggil setan merah. Bukti bisu yang ada hanyalah ribuan kepala dan tubuh yang ia tebas dengan tombak kembarnya.

Masamune pun sama. Dengan kekelaman masa lalu yang ia pikul, umur yang muda tak menjadi alasan baginya untuk menguasai dan menjadi salah satu sosok paling ditakuti sepanjang masa perang ini. Dan ia pun tahu Yukimura mirip dengannya.

Setidaknya itu pula yang ingin ia percayai. Andai dunia sedikit lebih indah dari yang terlihat tentu ia tak perlu menanamkan amarah dalam hatinya.

 

Hanya untuk pertarungan ini.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

Kali ini Masamune yang lengah. Tersadar oleh lolongan Yukimura, serangan tombak mengenai ujung rompinya. Lagi. Dan lagi. Hingga di detik selanjutnya ia menemukan celah untuk mundur tiga langkah.

“MASAMUNE-DONOOO, HADAPI AKU!!!”

“Tentu saja bodoh. Aku tak ingin kau cerama—“

“SEMANGAT YANG BAGUS! TAPI KAU LENGAH!!”

Benar saja, satu sabetan dan luka sayatan terbentuk di pipi kanan Masamune.

“…SHIT.”

Memperbaiki kuda-kudanya dan mengarahkan keenam pedangnya ke arah Yukimura, Masamune melompat. Setelah merasa cukup tinggi ia menukik.

“HIYAAAAAHH!!!”

“UOGH!!”

Suara tombak terpelanting membelah deru angin. Hujaman pedang sang Naga Mata Satu mengenai sisi perut bagian kiri. Telak.

Mata coklat itu meronta. Hawa pejuang tak surut dan sana. Namun tubuh Yukimura berhenti bergerak; terlambat menolak serangan cepat lanjutan yang disarangkan. Lagi. Dan lagi. Sekali la—

“Ma….samune…do…no…..”

Jemari itu tergetar rapuh. Namun cengkeramannya masih terbilang kuat. Tanpa kata Masamune memandang wajah Yukimura yang bersimbah darahnya sendiri. Tangan itu menggenggam kerahnya.

“Aku…. kalah…. Kau memang… hebat, Masamune-dono,” pujinya seraya berusaha membentuk setengah lingkaran dengan bibirnya.

“Yukimura…..”

“…….”

“……….”

Mungkin tak ada juri yang mampu menyaksikan duel maut itu. Tak ada yang paham seindah apa usaha terakhir salah satu keturunan Sanada dalam menjalankan misi sekaligus perjalanan untuk membuktikan motif penyerangan beruntun yang dilakukan seorang Date Masamune. Yang terakhir memang untuk dirinya sendiri. Di saat terakhirnya ia masih mengakui kekalahannya, tanpa ada keraguan di air mukanya.

.

.

.

Sore itu nampak sendu dengan guratan keunguan pada ujung horison. Di sudut pedesaan, Masamune memandang menengadah. Sudah beberapa minggu sejak kemenangannya atas Sanada. Beberapa klan sekitar mendaftar namanya dalam urutan pembunuh.

Tak masalah.

“……mungkin aku memang berlebihan ya saat mengatakan aku akan membuatmu malu,” ujarnya disertai kekehan santai.

“….terima kasih telah menyadarkanku kembali, Yukimura. Semangat teguhmu itu pasti menjadi inspirasi banyak orang.”

“Masamune-sama! Ayo kembali sekarang!”

Sambil tersenyum, Masamune mengambil helmnya dan berlalu.

 

FIN

Iklan
Pos ini dipublikasikan di fanfic dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s