NARUTO : A DIARY OF MINATO PART 1


Cerita ini hanya sekedar rekaan saja. Walupun rekaan, sebisa mungkin saya menyisipkan fakta-fakta dari kisah hidup Minato di cerita ini. Selamat membaca.

 

ITS THE DAY!

“Aduh, ga bisa tidur nih, banyak nyamuk lagi”.

Segera kuambil raket listrik, lalu kukibaskan pada nyamuk-nyamuk itu.

“Nah, mati semua deh, oke saatnya tidur lagi”.

Meskipun nyamuk sudah kuhabisi dengan raket listrik tapi aku tetap tak bisa tidur.

“Apa mungkin ini gara-gara besok hari k elulusan dari Akademi  Ninja ya? Padahal kan besok acara penting, aku harus cepat tidur, biar ga kesiangan besok”.

Aku pun tertidur dengan lelap. Aku bermimpi menjadi Hokage, semua penduduk desa menyorakiku dengan meriah.

Juga banyak cewek-cewek desa yang tersipu melihatku. “Wah, gini ya rasanya jadi Hokage, enak bener”.

Mataku tertuju pada seorang cewek di dekat kedai takoyaki favoritku. Ia sangat manis, rambutnya merah panjang, dan bisa kurasakan pasti banyak cowok yang naksir dia. Ingin kudekati dia, tapi hal itu kelihatannya mustahil, mengingat aku harus segera menjalani upacara pelantikan Hokage. Begitu melihat ada celah, segera kuhampiri cewek itu.

“Hokage, anda mau kemana?”, kata salah seorang Jounin pengawal seraya menghadangku.

“Sebentar, aku ada urusan penting”, ujarku.

Aku pun segera menghampiri cewek itu. Sialnya karena terlalu cepat berlari, aku tersandung batu kerikil dan jatuh dengan keras.

BRAAK.

“Uwaa, dimana ya ini ?”, gumamku setelah terbangun.

“Apa aku ada di Kantor Hokage ya”.

Kulihat sekitarku. Coretan-coretan di dinding, poster Hokage, dan bungkusan mie ramen yang berserakan.

“Ha, ini kan kamarku”, sambil menepuk-menepuk pipiku supaya cepat sadar.

“Berarti aku jadi Hokage itu mimpi donk, aduuh, tapi aku masih penasaran siapa cewek cantik yang kutemui di mimpiku semalam ya?”

“Minato, minato, ayo berangkat”.

“Wah, temen-temen”.

Kubuka jendela kamarku. Mereka adalah teman-temanku. Shibi dari klan Aburame, Shikaku dari klan Nara, Choza dari klan Akimichi, dan teman-teman lainnya.

“Woi,Minato, ayo berangkat”.

“Iya nih, sudah hampir telat loh”, ujar Choza sambil mengunyak kripik kentangnya.

“Oke, tunggu sebentar teman-teman”.

Segera aku masuk kamar mandi lalu mandi dengan kilat. Tak sampai 5 menit aku sudah selesai. Kemudian aku segera memakai pakaianku dengan cepat. Sebelum berangkat, aku memandang poster Hokage.

“Hari ini aku akan menjadi seorang Shinobi kemudian aku akan menjadi Hokage yang baru”, kataku dengan lantang.

“Hei, mau dandan berapa lama sih!! Cepetan dong”, teriak Shikaku.

“Iya, sabar dong bos”, ujarku.

Kubuka pintu rumahku. Disana sudah berdiri teman-temanku. Saat kulewati Shibi, ia berbisik padaku “Dasar Tukang Dandan”. Mendengar hal itu, aku cuma bisa mengeryitkan dahi.

“Ayo, kita semua lomba siapa yang lebih cepat sampai ke Akademi. Yang menang boleh meminta apa saja pada yang kalah. Bagaimana setuju?”, ujar Shikaku.

===============================><=============================><===========================

Aku paling cepat di antara temanku-temanku. Aku memang cepat dalam berlari. Tak heran, dalam sekejap aku sudah sampai ke Akademi. Kemudian kulihat temanku-temanku datang dengan napas tersengal-sengal.

“Fuuih kalah lagi deh”, ujar Shikaku.

“Capek”, ujar Choza sambil telentang di jalanan.

Sementara Shibi membuka bagian atas jaketnya yang biasanya menutupi mulutnya. Sesuatu yang sangat jarang dilakukannya. Mungkin karena ia butuh udara segar setelah lomba tadi.

“Oke Minato, kamu minta apa?”, kata Shikaku.

“Emm apa ya”, pikirku.

“Begini saja, kalian semua mentraktirku takoyaki di kedai dekat pemandian air panas, gimana, murah meriah kan?”, kataku.

“Oke deh, kami semua setuju”, kata Shikaku setelah berdiskusi dengan Choza dan Shibi.

Kemudian muncul seorang anak tepat di depan kami, ia berteriak dengan keras

“KELAS AKAN DIMULAI, CEPAT MASUK!!!”, ujarnya.

Kami segera masuk ke kelas. Aku dan teman-temanku mengambil tempat duduk yang berdekatan.

“Tadi siapa sih?”, tanyaku pada Choza.

“Oh anak tadi, namanya Inoichi dari klan Yamanaka”.

“Ehhm, klan Yamanaka, yang ahli jutsu Shintenshin itu ya”, ujarku.

Kemudian Ibu Guru datang sambil membawa seorang anak. Ia pastinya perempuan. Tapi aku merasa aneh setelah melihat wajahnya. Seolah-olah aku pernah bertemu dengannya. Kebingunganku makin bertambah setelah melihat rambut merahnya yang terurai panjang.

“Anak-anak, perkenalkan dia adalah murid pindahan dari desa Usuzhiogakure. Hari ini ia juga akan mengikuti Upacara Kelulusan. Nah, perkenalkan namamu anak manis”.

“Namaku adalah Uzumaki Kushina. Teman-teman bisa memanggilku Kushina. Aku murid pindahan dari desa Usuzhiogakure. Salam kenal.”

“Nah, Kushina, segera cari tempat duduk yang kosong”, ujar Bu Guru.

Ia memilih tempat duduk di bagian depan pojok kanan kelas yang notabene banyak dihuni anak laki-laki.

“Kenapa ia tak memilih tempat duduk di kelompok wanita ya?”, pikirku.

“Sebelum nanti sore diadakan Upacara Kelulusan, ibu guru ingin mengetahui cita-cita kalian setelah resmi menjadi shinobi nanti.”

Satu persatu anak menceritakan cita-citanya. Ada yang ingin menjadi Hokage, ada yang ingin menjadi Anbu, pokoknya macam-macam deh.

Akhirnya tiba giliranku.

“Cita-citaku adalah menjadi Hokage yang diakui penduduk desa”, jawabku dengan penuh semangat.

Lalu yang paling terakhir adalah anak berambut merah itu, Kushina.

“Cita-citaku adalah menjadi Hokage Cewek pertama di Konoha”, jawabnya dengan semangat berapi-api.

Mendengar hal itu, semua anak di kelas tertawa terbahak-bahak. Aku sendiripun sebenarnya ingin tertawa, tapi entah mengapa mulutku seolah terkunci. Seolah-olah aku tertegun oleh ucapannya.

“Sejak dulu sudah menjadi kebiasaan yang menjadi Hokage adalah laki-laki, bukan perempuan”, kata Shikaku.

“Kamu mana bisa jadi Hokage, lagian kamu kan anak baru”, tambah Choza.

“Hei lihat saja, kelak aku akan menjadi Hokage Cewek pertama, sementara kalian anak laki-laki payah mungkin hanya akan menjadi Genin selamanya, lihat saja”, kata Kushina dengan lantangnya.

“Sudah-sudah, hal seperti ini tak usah diributkan. Setiap anak pasti memiliki cita-citanya sendiri. Jadi kalian jangan mengejek cita-cita teman kalian. Berjuanglah mulai saat ini untuk mencapai cita-cita itu. Mengerti?”, kata Ibu Guru.

“Mengerti, Bu”, kata anak-anak.

=====================><==================================><===============================

Akhirnya tiba waktunya upacara kelulusan. Orang tua para murid berdatangan.Aku hanya bisa menahan sedih melihat hal itu. Kedua orang tuaku gugur dalam Perang Dunia Shinobi II. Sejak saat itu aku merasa selalu kesepian. Namun aku beruntung memiliki teman seperti Choza, Shibi dan Shikaku yang senantiasa menghiburku.

“Namikaze Minato”, kata salah seorang Jounin panitia.

“Iya, saya pak”.

Aku segera berlari menuju meja pembagian. Aku sangat tak sabar ingin segera mungkin memasang ikat kepala tanda shinobi di kepalaku.

“Ini Minato, terimalah ikat kepala ini”, ujar Jounin panitia.

“Oke terima kasih pak”.

“Eiit, tapi tuh ikat kepala jangan dipakai dulu, masih ada acara sambutan dari Hokage”.

“Oke” (payah padahal mau segera kupakai).

=======================><==============================><=================================

Tiba waktunya sambutan dari Hokage. Semua anak berkumpul di aula Akademi.

“Kalian adalah generasi muda penerus semangat api Konoha. Mulai sekarang kalian bukan lagi siswa Akademi, tapi kalian adalah seorang shinobi. Shinobi Konoha bukanlah shinobi yang semata-mata mempergunakan akal pikirannya dalam bertempur, tapi juga semangat pantang menyerah dan tak kenal lelah untuk terus mempertahankan keyakinannya. Nah sekarang kalian boleh memakai ikat kepala. Sekali lagi, kuucapkan SELAMAT”.

Aku langung memakai ikat kepala begitu juga semua anak-anak di aula. Kemudian kami semua saling bersalaman satu sama lain. Aku sadar bahwa kelak akan sulit menemui situasi kebersamaan ini saat telah menjadi Genin. Tapi aku tetap yakin biarpun waktu berlalu, biarpun kita tumbuh dewasa, ikatan persahabatan tak akan pernah terputus.

======================><==============================><==================================

Upacara Kelulusan telah selesai. Aku segera berlari dengan cepat menuju rumahku. Aku sudah tak sabar memulai misi pertamaku sebagai seorang Genin. Hari ini aku adalah seorang shinobi. Kisahku akan segera dimulai……

Iklan
Pos ini dipublikasikan di fanfic, Naruto dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke NARUTO : A DIARY OF MINATO PART 1

  1. anggit kusuma berkata:

    keren, good…good…good!

    Suka

  2. febriminato berkata:

    sayangnya masih sibuk bikin kelanjutannya hehe

    Suka

  3. Ping balik: NARUTO SHIPPUDEN : THE CHOSEN ONE. | A Diary of Minato

  4. Ping balik: NARUTO : TALE OF THE CHOSEN ONE (YOGEN NO KO) | A Diary of Minato

  5. Anonim berkata:

    wah keren bangat

    Disukai oleh 1 orang

  6. febriminato berkata:

    Makasih…😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s